Friday, March 18, 2016

Laju Gerak Waktu adalah sejajar, tidak berurutan, bahkan mungkin tidak ada

waktu spiral

Lirazan - Terlalu dalam doktrin tentang konsep waktu usang yang berjalan berurutan masuk dan hinggap dalam insan. Begitu dalamnya hingga keberadaan waktu, sistem kerja, hingga konsep terluasnya diyakini sudah berada pada puncak kesimpulan. Berapa kali kita berpikir, berapa tahun Saya bisa punya mobil? Atau kapan Saya menikah? Semua bergantung pada kemampuan kita untuk menyelaraskan dengan semesta. Bukankah semesta tidak membutuhkan waktu untuk mewujudkan apa yang ingin kita wujudkan? Einstein dan para ilmuwan fisika Quantum pernah "menghukum" bahwa waktu hanya ilusi.

Fisika kuantum mengatakan kepada kita bahwa benda-benda berada dalam keadaan fisik sampai hal itu diamati, ketika mereka muncul dengan hanya satu hasil, kita tidak tahu apa yang terjadi sampai kita menyelidiki, dan pengamatan kita akan mempengaruhi realitas tersebut. Apakah peristiwa-peristiwa tertentu yang mungkin terjadi beberapa waktu lalu pernah terjadi atau tidak, mungkin tidak benar-benar dapat ditentukan sampai beberapa waktu di masa depan kita pribadi, itu mungkin benar-benar bergantung pada tindakan yang belum terjadi.

Bintang Vega, salah satu Bintang paling terang, memiliki jarak 25 tahun cahaya dari Bumi. Sadarkah kita bahwa Cahaya Bintang tersebut yang kita lihat saat ini adalah cahaya 25 tahun yang lalu? Ya, kita hidup di masa lalu Vega. Contoh lain yang sangat diyakini kebenarannya oleh umat islam adalah pengalaman Nabi Muhammad melakukan perjalanan atau yang lazim disebut Isra' Mi'raj. Dalam perjalanannya, Nabi Muhammad melihat apa yang diyakini sebagai surga dan neraka berikut berserta isinya. Hal ini menunjukkan bahwa Beliau pernah singgah di masa depan (?).

Mungkin untuk yang baru mendengar hal ini terasa begitu aneh. Ada satu data yang menguatkan bahwa waktu tidal bergerak secara berurutan. Berdasarkan percobaan yang diterbitkan di majalah Science beberapa tahun yang lalu. Para ilmuwan di Perancis mencoba menembakkan partikel cahaya “foton” kedalam alat ukur, dan menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan tepat pada sekarang, saat ini, bisa mengubah sesuatu yang telah terjadi di masa lalu. Ketika foton melewati sebuah cabang, mereka harus memutuskan apakah akan berperilaku seperti partikel atau gelombang ketika mereka menabrak sebuah balok pemisah. Kemudian, setelah foton melewati sebuah cabang, pengamat secara acak dapat mengaktifkan balok kedua splitter dan menonaktifkannya secara elektronik. Ternyata apa yang diputuskan oleh pengamat pada pada saat itu, menentukan jalan partikel tersebut di di masa lalu. Pada saat itu, yang mengamati memilih realitasnya.

Narasi Semesta tidak membuka dalam ruang, ia membuka dalam waktu

Setiap partikel memiliki berbagai kemungkinan keadaan fisik, tapi itu tidak memiliki wujud sampai ada tindakan pengamatan aktual yang dibutuhkan untuk mendefinisikan bentuknya. Jadi sampai masa kini ditentukan, bagaimana bisa ada masa lalu?

Jika mereka dapat melakukan perjalanan pada kecepatan cahaya, waktu mereka akan berhenti sepenuhnya dan mereka akan terjebak dalam keabadian. Keyakinan ini memiliki dampak yang sangat sedikit pada kosmologi atau sains pada umumnya, karena masih banyak jumlah fisikawan yang tidak percaya pada keabadian dan, Mayoritas fisikawan telah terlambat untuk menyerah pada asumsi yang biasa kita buat mengenai waktu.

Teori banyak dunia menjelaskan semesta:

Ruang biasa tidak hanya berisi ruang kosong lainnya, tapi ruang kosong itu sebenarnya adalah keseluruhan realitas fisik.
Kajian lebih mendalam, jika teori yang diusulkan ini benar, ruang ini sesungguhnya adalah penuh, daripada sekedar kosong. Materi tidak lebih dari pengisi ruang. Bahkan, bukan tidak mungkin ini adalah ruang yang mencakup semua kemungkinan untuk tampak kosong bagi kita.

Kesimpulannya adalah, alam semesta yang kita lihat hanyalah sebuah fragmen kecil dari keseluruhan jaringan keabadian, bukan dunia materi tunggal ajaib yang muncul begitu saja. Semua alam semesta ada tanpa awal atau akhir di arena utama waktu, dan setiap saat kita mengalami keabadian.

"Waktu" adalah "produk" manusia

Sebuah pemikiran kontemporer mengungkapkan betapa hebatnya teori usang Newton. Tampilannya yang serba aneka (urutan, kesinambungan, durasi, simultanitas, aliran dan panah) masuk akal dan logis, namun semuanya menempel pada satu jam utama yang disebut “waktu” oleh Newton.

Peristiwa apa yang terjadi pada waktu yang sama tergantung pada seberapa cepat kita bergerak. Space sesungguhnya untuk peristiwa adalah bukan waktu atau ruang, tapi kesatuannya: ruang-waktu. Aplikasinya, Dua pengamat bergerak dengan kecepatan berbeda tidak akan pernah bisa setuju kapan dan dimana sebuah peristiwa itu terjadi, tetapi mereka dapat setuju pada lokasinya di ruang waktu. Ruang dan waktu adalah konsep sekunder yang, seperti dikatakan matematikawan Hermann Minkowski, yang dikatakan profesor di universitas Einstein, “runtuh, terhapus oleh bayangan.”

Einstein memperluas relativitas khusus pada situasi dimana gaya gravitasi bekerja. Gravitasi membengkokkan waktu, sehingga kalimat pertama disini mungkin berbeda artinya dengan kalimat kedua. Hanya pada kasus yang langka menjadi mungkin untuk menyelaraskan waktu dan tetap membuatnya selaras, bahkan walaupun secara prinsip.

Kita mungkin sulit untuk bisa secara umum memikirkan dunia ini tidak berlipat, detik demi detik, menurut satu parameter waktu. Dalam situasi yang ekstrim, dunia mungkin tidak terpatri menjadi "saat saat waktu" sama sekali. Menjadikan mustahil untuk mengatakan sebuah peristiwa terjadi sebelum atau sesudah yang lain.

Kita cenderung berpikir dan merasa bahwa waktu pada hakikatnya adalah linier, perjalanan yang pasti mengalir maju dari masa lalu ke masa kini lalu ke masa depan. Ini bukan hanya persepsi pribadi dari semua manusia, tetapi juga konteks di mana mekanika klasik menganalisis semua fungsi matematika dalam alam semesta. Tanpa adanya konsep, ide-ide seperti prinsip kausalitas (sebab-akibat) dan ketidakmampuan kita untuk hadir secara bersamaan dalam dua peristiwa sekaligus akan dipandang dari tingkat yang sama sekali berbeda.

Barbour: Dalam ruang kosmos, masa depan (masa depan kita) sudah ada, disebarkan, dan setiap detik masa lalu kita juga masih ada, bukan sekedar sebagai memori tetapi sebagai sesuatu yang nyata.

Einstein: Orang-orang seperti kita, yang percaya pada fisika, mengetahui bahwa perbedaan antara masa lalu, sekarang, dan masa depan hanyalah sebuah ilusi yang sulit dihilangkan.

Apa yang akan terjadi jika waktu berhenti? Sebagian besar akan menjawab: semuanya berhenti bergerak. Jam berhenti. Semua menjadi kaku, diam seperti patung, dan lain sebagainya. Jika Anda bisa menjawab pertanyaan ini, cobalah jawab pertanyaan ke dua.

Jika anda bisa membuat waktu berhenti, maka berapa lama anda akan menghentikan waktu? Jika anda menjawabnya dengan satuan waktu, maka anda jelas terjebak kontradiksi. Anggap anda menjawab 1 jam, maka anda secara langsung mengatakan bahwa waktu berjalan selama 1 jam ketika waktu berhenti sebelum kemudian dijalankan kembali. Kita harus memahami bahwa waktu berbeda dengan proses. Pada saat anda menjawab pertanyaan pertama bahwa “semua berhenti bergerak” anda melupakan bahwa yang berhenti adalah “proses” bukan waktu. Waktu sendiri tidak mungkin berhenti. Apa implikasinya? Diluar sana yang ada adalah keabadian. Proses yang selalu berlanjut tanpa awal dan akhir.

Jika begitu, bagaimana dengan karma?

Menurut penelitian terbaru di bidang fisika kuantum, apa yang kita semua ketahui sebagai materi padat yang menjadi realitas kita ternyata tidak lebih terdiri dari fluktuasi kuantum di tengah alam semesta yang kosong.

Hai Prof. Einstein, mungkin Anda akan ditertawakan oleh publik saat berkata bahwa waktu adalah ilusi, tapi bagi Saya, Saya tidak akan menertawakan Anda, Saya hanya akan mengangguk pelan dan berkata: "Sssttt…..ini rahasia kita kan??? hahaha."

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Laju Gerak Waktu adalah sejajar, tidak berurutan, bahkan mungkin tidak ada

0 komentar:

Post a Comment